Takdir Telah Dituliskan Lalu Kenapa Pelaku Maksiat di Hukum?
(Nasehat Singkat)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin حَفِظَهُ الله تعالى
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
*Takdir Telah Dituliskan Lalu Kenapa Pelaku Maksiat di Hukum?*
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin حَفِظَهُ الله تعالى
🗓️ 7 Februari 2021
T: Apakah manusia dihukum karena kesalahan dan kemaksiatannya, padahal Allah lah yang telah menakdirkan perbuatan tersebut di Lauhul Mahfudz? Kami berharap penjelasan dari Anda, terimakasih.
J: Ya, manusia akan dihukum karena kemaksiatan yang ia lakukan. Apabilak kemaksiatan tersebut bukan kesyirikan maka dihukum atau tidaknya tergantung kehendak Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa sebuah kemaksiatan terjadi berdasarkan ilmu ALlah dan kehendakNya.
Hal tersebut telah dituliskan atas seorang hamba di Lauhul Mahfudz dan ketika ia masih berada di dalam perut ibunya. Akan tetapi yang tertulis itu tidak diketahui oleh seorang manusia sehingga ia bisa beralasan dengannya atas perbuatannya. Seandainya ia thu apa yang tertulis lalu ia berdalil dengan takdir atas perbuatannya, tentu akan kita katakan, "Alasan dia benar", tapi apa yang tertulis tersebut tidak ia ketahui.
Siapakah yang tahu bahwa Allah menakdirkan kemaksiatan atas seorang hamba, padahal sampai sekarang hamba tersebut belum bermaksiat?!. "Dan tidak ada seorangpun yang mengetahui (dengan pasti) apa yang akan ia kerjakan esok hari." [QS> Lukma: 34]
Sehingga ketika seseorang melakukan maksiat,ia belum tahu apa yang Allah takdirkan unutknya, ia baru tahu setelah kejadian tersebut berlalu. Dan alasan dengan takdir tidak akan diterima kecuali apabila ia tahu sebelum kejadian tersebut. Oleh karena itu sebagian ulama berkata, "takdir itu bersifat rahasia dan tertutup, tidak diketahui sampai waktunya terjadi."
Ucapan mereka ini benar. Sekarang siapakah yang tahu bahwa ALlah akan menurunkan hujan esok hari?!. Besok setelah turun barulah kita tahu bhawa Allah telah menakdirkannya. Siapakah yang tahu bahwa si A besok akan bermaksiat?!. Setelah si A benar-benar bermaksiat barulah kita tahu bahwa Allah menakdirkannya. Sehingga pelaku maksiat tidak bisa beralasan dengan takdir atas pelanggaran syariat yang dilakukannya. Selama-lamanya, syariat tidak bisa dilanggar dengan alasan takdir!
Atas dasar inilah Allah runtuhkan alasan orang-orang yang berdalih dengan takdir atas perbuatannya. Orang-orang musyrik akan berkata, "Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan_Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun". "Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan [para rasul] sampai mereka merasakan azab Kami." [QS. AL-An'am: 148]
Apabila alasan mereka dibenarkan tentu mereka tidak akan merasakan azab dari Allah!.Allah ta'ala berfirman, "Rasul-rasul ituadalah sebagai pembawa berita gembora dan pemberi peringatan, agar tidakada alsan bagi manusia untuk *MEMBANTAH* Allah setelah rasul-rasul itu diutus." [QS. AN-Nisa: 165]
Seandainya takdir bisa digunakan untuk berdalih tentu tidak ada gunanya diutus para rasul. Ketika Nabi mengabarkan, Bahwa. "Setiap orang telah dtentukan tempptnya, baik di surga maupun di neraka", Para sahabat berkata,"Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak meninggalkan amal saja lalu kita pasarah dengan takdir itu?!". Beliau menjawab, "Tetaplah beramal karena setiap orang akan dimudahkan sesuai siratan takdirnya".
Kemudian beliau membaca ayat, "Maka barang siapa memberikan [hartanya di jalan Allah] dan bertakwa", "Dan membenarkan [adanya pahala] yang terbaik [surga] maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan [kebahagiaan]", "Adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup [tidak perlupertolongan Allah], serta mendustakan [pahala] yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran [kesengsaraan]". [Lihat HR. Al_Bukhari no. 4949].
Maka kita katakan kepada manusia, "Takdir hanya ALlah yang mengilmuinya. Takdir bersifat rahasia dan tertutup". "Anda *DIPERINTAHKAN* untuk beramal shalih dan *MENJAUH* dari amal buruk", "Maka lakukan apa yang diperintahkan kepada Anda", "Lakukan amal shalih dan jauhi amal buruk". "Inilah yang dituntu dari Anda dan "Allah tidak akan membebani seorang hamba diluar kesanggupannya". Na'am."
wallahu a'lam
wallahu a'lam